Bangkit Pascabencana, Para Pelaku Usaha Mikro Harus Kuatkan Growth Mindset

Bangkit Pascabencana, Para Pelaku Usaha Mikro Harus Kuatkan Growth Mindset

DUKUHUMKM, Surabaya– Pemulihan ekonomi pasca-bencana tidak cukup hanya dengan suntikan modal dan bantuan fisik. Dibutuhkan perubahan cara pandang agar pelaku usaha mampu melihat peluang di tengah keterbatasan. Melalui penguatan growth mindset, pelaku usaha mikro didorong untuk bangkit secara bertahap dan berkelanjutan.

Melalui materi yang disampaikan belum lama ini, Dosen Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR) Rafi Aufa Mawardi, SSosio, MSosio menekankan pentingnya growth mindset bagi pelaku usaha mikro. Menurutnya, growth mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan, keterampilan, dan keberhasilan dapat dikembangkan melalui proses belajar, latihan dan pengalaman. 

Dalam konteks pascabencana, pola pikir ini mendorong pelaku usaha untuk percaya bahwa usaha bisa diperbaiki, keterampilan dapat ditingkatkan, dan kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

“Growth mindset bukan optimisme kosong, tetapi optimisme yang disertai tindakan nyata. Semoga kita dapat memiliki mindset yang bertumbuh secara signifikan,” jelasnya.

Menurutnya, tidak dapat dipungkiri aspek usaha ini sudah dibangun sejak lama, namun ketika bencana terjadi, bangkit itu sangatlah susah. Namun disini kami hanya bisa memberikan motivasi dan dukungan secara moral. “Saya rasa 25 pelaku usaha disini punya potensi untuk bangkit. Mungkin musibah yang dialami bapak dan ibu menjadi ruang agar bisa beradaptasi dengan dunia yang sangat berubah hari ini,” ungkapnya. 

Menggeser Fokus dari Kehilangan ke Peluang
Rafi menjelaskan, banyak pelaku usaha mikro terjebak dalam fixed mindset ketika menghadapi situasi sulit. Misalnya, saat modal hilang, muncul pikiran ‘Saya tidak bisa usaha lagi’. Ketika pelanggan sepi, muncul anggapan ‘Usaha saya gagal’. Padahal, dengan growth mindset, pola pikir tersebut dapat diubah menjadi ‘Saya bisa mulai dari kecil’ atau ‘Saya perlu cara baru menjangkau pelanggan'.

Perubahan cara pandang ini memindahkan fokus dari apa yang hilang menuju apa yang masih bisa dibangun. Bahkan ketika alat usaha rusak atau kompetitor bertambah banyak, pelaku usaha didorong untuk mencari alternatif, berimprovisasi, dan menemukan keunikan produk.

“Saya berharap Bapak dan Ibu bisa tumbuh secara perlahan. Karena usaha tidak pernah menghianati hasil,” ucapnya.

Rafi mengatakan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kembali mental kewirausahaan pascabencana. Pertama, menanamkan mindset yang lebih positif, seperti mengganti kalimat ‘Saya tidak bisa’ menjadi ‘Saya belum bisa’, atau ‘Saya gagal’ menjadi ‘Saya sedang belajar’.

Kedua, fokus pada aset yang masih dimiliki, bukan hanya uang. Keterampilan, relasi pelanggan, pengalaman bertahun-tahun, hingga dukungan keluarga merupakan modal sosial yang tak kalah penting. “Ini adalah bagian yang sangat penting karena bisa membantu karakter kita sebagai pengusaha yang resilience yang bisa bertahan pada kondisi sekarang,” ujarnya. 

Ketiga, merayakan kemajuan kecil. Menjual 10 produk setelah bencana atau membuka warung selama tiga jam sehari di minggu pertama pasca-banjir adalah bentuk keberhasilan yang patut diapresiasi.

“Di tengah kondisi yang rapuh saat ini, memiliki keterampilan adalah hal yang patut disyukuri dan mau berusaha walaupun kecil-kecil dulu. Kita sadar punya kompetensi dalam membuat kue dan bergerak satu langkah untuk membuat PO dulu itu luar biasa,” tuturnya. 

Keempat, membangun lingkungan pendukung. Solidaritas antar pelaku usaha, seperti saling bertukar bahan baku, menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi dapat mempercepat pemulihan.

“Kita harus bangga jika ada saudara kita yang mau berusaha dan jualannya laku. Itu kita harus senang dan saling mendukung,” ujarnya.

Tantangan yang Perlu Diatasi
Meski demikian, membangun growth mindset bukan tanpa hambatan. Banyak pelaku usaha masih membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu ketika usaha mereka lebih besar. Rasa malu memulai dari kecil dan kelelahan emosional akibat trauma juga menjadi tantangan tersendiri.

Karena itu, proses bangkit tidak dimaknai sebagai kembali ke kondisi sebelum bencana secara instan. Kebangkitan adalah langkah kecil yang dilakukan secara konsisten untuk membangun kembali usaha secara bertahap.

“Banjir boleh merusak tempat usaha, tetapi jangan biarkan ia merusak harapan,” tutup Rafi.

Melalui penguatan pola pikir kewirausahaan ini, Rafi berharap pelaku usaha mikro di Aceh tidak hanya pulih secara ekonomi, tetapi juga tumbuh lebih tangguh dalam menghadapi tantangan di masa depan yang semakin kompleks. 
 


Editor: Red

Terkait

Komentar

Terkini