FAO dan KKP Pulihkan Populasi Arowana yang Terancam Punah di Danau Haleung dan Melawen, Kalteng

FAO dan KKP Pulihkan Populasi Arowana yang Terancam Punah di Danau Haleung dan Melawen, Kalteng

DUKUHUMKM, Barito Selatan- Salah satu spesies ikan yang terancam punah dan berasal dari Indonesia, yakni arowana red banjar, belum lama ini telah dilepaskan kembali di Danau Haleung. Tercatat ada dua puluh ekor yang dilepaskan. Pelepasan itu, sekaligus untuk merevitalisasi keanekaragaman hayati akuatik di Kalimantan Tengah. 

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melalui proyek 'Mainstreaming Biodiversity Conservation and Sustainable Use into Inland Fisheries Practices in Freshwater Ecosystems of High Conservation Value' atau IFish* telah bermitra dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Global Environment Facility (GEF) di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan untuk melestarikan populasi ikan yang telah menurun drastis akibat penangkapan ikan berlebihan dan degradasi habitat. 

Arowana Asia (Scleropages formosus) memiliki empat varian utama: super red, golden, green, dan red banjar. Arowana adalah sumber budaya dan ekonomi berharga bagi komunitas lokal di Kalimantan Tengah. FAO bermitra dengan KKP untuk melaksanakan upaya reintroduksi arowana red banjar ke habitat asli untuk memperbarui dan melestarikan populasinya. Sepuluh ekor ikan dilepaskan masing-masing di Danau Haleung dan Melawen yang telah diidentifikasi oleh para ahli sebagai lokasi yang cocok secara ekologi untuk reintroduksi ini. 

"Selama beberapa dekade terakhir, populasi ikan yang dulunya melimpah di perairan kita sebagai habitat alaminya telah mengalami penurunan yang signifikan dan oleh karenanya menimbulkan kekhawatiran. Upaya reintroduksi akan memperkuat pengelolaan perikanan darat untuk memastikan keberlanjutan sumber daya, karena arowana red banjar adalah ikon dan kebanggaan Kabupaten Barito Selatan. Kami berkomitmen untuk melanjutkan dan meningkatkan upaya baik yang dimulai dari RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah)," kata Eddy Purwanto, Sekretaris Daerah Kabupaten Barito Selatan yang mewakili Bupati Barito Selatan, Deddy Winarman. sambungnya.

Pernyataan tersebut juga disampaikan oleh Kusmiatie, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan, yang mewakili Bupati Kabupaten Kapuas, "Berdasarkan Kelompok Kerja Teknis (TWG) kami, Kabupaten Kapuas berkomitmen untuk melanjutkan program-program baik ini melalui rencana strategis," ucapnya.

Upaya reintroduksi ini sesuai dengan pedoman teknis dari Peraturan Direktur Jenderal PRL No. 66 tahun 2022 BPSPL (Direktorat Konservasi dan Biota Perairan Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP) dan melibatkan tim spesialis. 

Eko Nugroho, selaku perwakilan dari kantor Global Environment Facility (GEF) Operational Focal Point di Indonesia, mengaitkan keberhasilan proyek ini dengan manajemen berbasis masyarakat yang telah diterapkan oleh IFish. "Keberhasilan proyek ini adalah partisipasi aktif masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya perikanan perairan darat serta dukungan pemerintah daerah melalui tata kelola dan kolaborasi yang menyeimbangkan kesejahteraan ekologi dan manusia," katanya. 


Editor: Red

Terkait

Komentar

Terkini